Forum detikSport
- 'IP MAN'... shiyilang
- Tampilkan Bela Diri Wing... Biment
- WWE @ Mall Of Indonesia... giamhok
- Horeee... WSBK ada di Tra... gozel
- bwat penggemar base ball ... 'Insan
- Fans American Football... domong2
Berita Lain
- Rabu, 07/01/2009 12:10 WIB
Balap Kuda Digoyang Krisis Finansial Global - Selasa, 06/01/2009 05:38 WIB
Reli Dakar
Sainz Masih Memimpin
Indeks Berita
Baca Juga
Minggu, 17/09/2006 04:19 WIB
Reli Tontonan Menghibur
Meliyanti Setyorini - detiksport
Makassar - Dua puluhan orang, dewasa hingga anak-anak balita, berkumpul di pinggir kali di Ko'mara. Mereka tidak sedang mencari ikan, tapi menunggu lewatnya mobil yang dipacu dengan kekuatan tinggi.
Jika ada mobil yang akan lewat terdengar riuh rendah suara mereka. Tepuk tangan pun membahana. Tidak jarang keluar komentar dalam bahasa ibu Makassar.
Di antara gerombolan anak-anak kecil itu ada Abdul Aziz. Bocah yang masih duduk di bangku SD kelas 1 itu rela membolos dari sekolah untuk menyaksikan aksi pereli di dekat rumahnya ini.
Nggak takut dimarahi guru? "Tidak," jawabnya kepada detiksport, sambil menggeleng lemah.
Bersama bocah yang mengaku bersekolah di Pesantren As-Salam itu, ada beberapa bocah seusianya. Seperti kompak, mereka juga mengaku membolos untuk menyaksikan reli dari dekat.
Antusiasme masyarakat pada gelaran Kejuaraan Reli Asia Pasifik seri eenam dan Kejuaraan Reli Nasional seri ketiga di Makassar ternyata cukup besar, termasuk dari warga pedesaan yang rumahnya kebetulan berdekatan dengan lintasan reli.
"Tahun lalu acara ini (reli) juga ada. Bagus, soalnya (kampung ini) jadi ramai," kata perempuan paruh baya bernama Kasnah dengan ramah.
Di titik finis special stage 4, antusiasme yang sama juga terlihat. Seorang ibu yang membawa beberapa anaknya sengaja "memindahkan" warungnya di kampung sekitar Takalar ke dekat finis. "Tahun lalu saya juga jualan di sini. Laku," akunya.
Kebetulan, di dekat pedagang kelontong dadakan itu ada seorang pemilik Perkebunan tebu Takalar yang sedang mengawasi para pekerjanya memindahkan tebu ke penggilingan. "Hari ini hasil tebu, ya, berkurang. Tuh, pekerjanya pada nonton," aku pria berkumis yang menolak menyebutkan namanya itu.
Namun ditambahkannya, berkurangnya hasil tebu produksi perkebunannya bukan semata-mata gara-gara ada reli. Tetapi lebih dikarenakan persoalan teknis. "Kami ngiling-nya telat. Tahun lalu empat hari sebelum reli kami sudah selesai ngiling. Tahun ini karena telat pas reli belum selesai. Saya khawatirnya mobil reli tabrakan sama truk pengangkut saja," tukasnya sambil menambahkan bahwa ini adalah kali keempat perkebunannya menjadi "tuan rumah" kejuaraan reli di Makassar.
Meski demikian ia mengaku senang melihat reli yang berlangsung di perkebunannya yang seluas enam ribu hektar itu. "Kalau dibilang untung, iya. Sekalian supaya orang-orang Makassar bisa lihat reli," pungkasnya saat ditanyakan mengenai keberadaan event yang tengah berlangsung.
Untuk warga Makassar dan khususnya warga di sekitar perkebunan Takalar, reli tampaknya bukan sekedar tontonan biasa. Itu telah menjadi event yang menghibur dan ditunggu-tunggu.
( mel / a2s )
Informasi Pemasangan Iklan:
Nuniek
Email : iklan@detiksport.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.524,526
Reli Tontonan Menghibur
Meliyanti Setyorini - detiksport
Jika ada mobil yang akan lewat terdengar riuh rendah suara mereka. Tepuk tangan pun membahana. Tidak jarang keluar komentar dalam bahasa ibu Makassar.
Di antara gerombolan anak-anak kecil itu ada Abdul Aziz. Bocah yang masih duduk di bangku SD kelas 1 itu rela membolos dari sekolah untuk menyaksikan aksi pereli di dekat rumahnya ini.
Nggak takut dimarahi guru? "Tidak," jawabnya kepada detiksport, sambil menggeleng lemah.
Bersama bocah yang mengaku bersekolah di Pesantren As-Salam itu, ada beberapa bocah seusianya. Seperti kompak, mereka juga mengaku membolos untuk menyaksikan reli dari dekat.
Antusiasme masyarakat pada gelaran Kejuaraan Reli Asia Pasifik seri eenam dan Kejuaraan Reli Nasional seri ketiga di Makassar ternyata cukup besar, termasuk dari warga pedesaan yang rumahnya kebetulan berdekatan dengan lintasan reli.
"Tahun lalu acara ini (reli) juga ada. Bagus, soalnya (kampung ini) jadi ramai," kata perempuan paruh baya bernama Kasnah dengan ramah.
Di titik finis special stage 4, antusiasme yang sama juga terlihat. Seorang ibu yang membawa beberapa anaknya sengaja "memindahkan" warungnya di kampung sekitar Takalar ke dekat finis. "Tahun lalu saya juga jualan di sini. Laku," akunya.
Kebetulan, di dekat pedagang kelontong dadakan itu ada seorang pemilik Perkebunan tebu Takalar yang sedang mengawasi para pekerjanya memindahkan tebu ke penggilingan. "Hari ini hasil tebu, ya, berkurang. Tuh, pekerjanya pada nonton," aku pria berkumis yang menolak menyebutkan namanya itu.
Namun ditambahkannya, berkurangnya hasil tebu produksi perkebunannya bukan semata-mata gara-gara ada reli. Tetapi lebih dikarenakan persoalan teknis. "Kami ngiling-nya telat. Tahun lalu empat hari sebelum reli kami sudah selesai ngiling. Tahun ini karena telat pas reli belum selesai. Saya khawatirnya mobil reli tabrakan sama truk pengangkut saja," tukasnya sambil menambahkan bahwa ini adalah kali keempat perkebunannya menjadi "tuan rumah" kejuaraan reli di Makassar.
Meski demikian ia mengaku senang melihat reli yang berlangsung di perkebunannya yang seluas enam ribu hektar itu. "Kalau dibilang untung, iya. Sekalian supaya orang-orang Makassar bisa lihat reli," pungkasnya saat ditanyakan mengenai keberadaan event yang tengah berlangsung.
Untuk warga Makassar dan khususnya warga di sekitar perkebunan Takalar, reli tampaknya bukan sekedar tontonan biasa. Itu telah menjadi event yang menghibur dan ditunggu-tunggu.
( mel / a2s )
Diskusikan pendapat Anda dengan pembaca lain melalui milis detiksport@yahoogroups.com
Kirim e-mail kosong ke detiksport-subscribe@yahoogroups.com untukberpartisipasi.
Redaksi: redaksi@detiksport.comKirim e-mail kosong ke detiksport-subscribe@yahoogroups.com untukberpartisipasi.
Informasi Pemasangan Iklan:
Nuniek
Email : iklan@detiksport.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.524,526
