Berita Lain

Indeks Berita

Baca Juga

Senin, 24/03/2008 10:33 WIB

Dikartu Karena Emosi?
Mohammad Yanuar Firdaus - detiksport


Manchester - Dua kartu kuning yang diberikan Steve Bennett pada Javier Mascherano mengubah jalannya pertandingan. Konon, munculnya sanksi tersebut lebih karena faktor emosi keduanya.

Mascherano menjadi aktor utama drama tersebut. Ia sering terlihat melakukan tindakan kurang terpuji dengan mengeluarkan kata-kata kasar.

Dari catatan detiksport, setidaknya empat kali ia membuat aksi yang tidak patut dicontoh. Tekel dua kaki pada Paul Scholes, yang berujung pada kartu kuning pertama, membuatnya mengeluarkan makian kepada Bennett. Semenit berselang, ia kembali melakukan kekerasan verbal pada Bennett, yang membuatnya memperingatkan Mascherano dengan menyuruhnya diam.

Di pertengahan babak pertama, ia mengkonfrontir keputusan hakim garis dengan menyindirnya seraya berisyarat "sebaiknya Anda mengenakan kacamata". Dan yang terakhir adalah ketika ia menerima kartu kuning kedua yang berbuah kartu merah. Yang disesalkan adalah Mascherano terus berusaha merangsek mendekati Bennett untuk melakukan protes meski sudah ditahan oleh rekan-rekannya, juga ofisial pertandingan dan tim.

Bahkan Rafa Benitez harus turun tangan untuk menenangkan pemain asal Argentina itu. "Saya bisa berbicara dengannya dalam bahasa Spanyol, jadi saya katakan,' Dengar, waktumu sudah berakhir.'." ungkapnya seperti diberitakan dalam situs resmi Liverpool.

Manajer The Kop itu menilai Mascherano terkejut dan tidak bisa menerima keputusan Bennett yang mengusirnya hanya karena bertanya.

Sementara di pihak Bennett sendiri, ada indikasi ia terprovokasi atas aksi Mascherano. Menjadi korban kekerasan verbal membuat emosi Bennett terpancing hingga akhirnya muncul kartu tersebut, walaupun tindakan yang dilakukannya sesuai dengan regulasi.

Pendapat Benitez? "Anda harus tanya langsung kepadanya."

"Sulit menjelaskan beberapa hal yang terjadi di lapangan dan saya pikir lebih baik tidak untuk diperbincangkan terlalu banyak saat ini," imbuhnya.

Apapun itu, selama profesionalitas dijunjung tinggi, emosi bisa terkontrol dengan baik.

( ian / din )

Baca juga: