- Pelatih terhebat Dunia!!!... Shiyi lang
- komersial break yg lucu t... WalahBacoD
- Holland Eredivisie... OverHeadMachine
- Pemain Muda Paling Berbak... Il_Pinturicchio
- Inggris yang Tidak Lolos... Mr. Thinking
- Klub-klub terbaik di duni... Joel Milanisti
Berita Lain
- Sabtu, 05/07/2008 04:35 WIB
Zenit: Wenger Rubah Licik - Sabtu, 05/07/2008 00:23 WIB
Van Basten Pergi, Van Bommel Kembali - Jumat, 04/07/2008 11:15 WIB
Kewell Gabung Galatasaray - Jumat, 04/07/2008 03:26 WIB
Bintang Dunia dalam 'Goal4Africa' - Jumat, 04/07/2008 02:31 WIB
Rocchi Pimpin Azzurrini ke Olimpiade
Indeks Berita
Baca Juga
Klasemen Liga Champions, Klasemen Piala UEFA, Klasemen Belanda, Klasemen Portugal, Klasemen Prancis, Siaran Langsung
Selasa, 13/05/2008 17:27 WIB
Sukses Argentina Tahun 1978 karena Mafia?
Kris Fathoni W - detiksport

Buenos Aires - Argentina sukses menggondol tropi Piala Dunia untuk kali pertama pada tahun 1978 lalu. Namun kesuksesan tersebut diklaim tak lepas dari peranan organisasi keluarga mafia.
Piala Dunia 1978 yang digelar Argentina masih menggunakan dua fase grup di putaran final. Pada fase grup kedua, tuan rumah tergabung dalam Grup B bersama Brasil, Peru dan Polandia. Favorit di grup tersebut jelas adalah "Tim Tango" dan "Tim Samba".
Pada pertandingan pertama, Brasil sukses menekuk Peru 3-0 sedangkan Argentina mengandaskan Polandia 2-0. Kedua tim tangguh dari Amerika Latin tersebut kemudian berbagi hasil imbang 0-0 ketika saling berhadapan.
Pada pertandingan terakhir, Brasil yang tampil lebih dulu menang 3-1 dari Polandia. Hal ini membuat Argentina, yang bertanding usai partai tersebut tuntas, mutlak menang dengan selisih empat gol jika ingin melaju ke final. Jika tak mampu jatah itu jadi milik Brasil dan tuan rumah hanya akan memperebutkan posisi ketiga karena hanya finis di posisi dua Grup B.
Namun demikian, Mario Kempes cs mampu melakukannya, bahkan menang dengan setengah lusin gol tanpa balas. Skor 6-0 terkesan mencurigakan sehingga Brasil pun saat itu meradang, apalagi kiper Peru ketika itu, Ramon Quiroga, ternyata lahir di Argentina. Di final, Argentina dicatat oleh sejarah jadi jawara usai menyungkurkan Belanda 3-1 di babak tambahan waktu.
Tiga dekade berselang, putra seorang bos mafia melontarkan klaim kalau keluarga mafia tertentu ada di balik kemenangan Argentina atas Peru, dengan cara memberikan bayaran kepada pemain Peru agar mereka mengalah. Laga tersebut memang krusial karena jika gagal menang dengan memenuhi syarat gol yang dibutuhkan, Argentina takkan ada di final.
Hal tersebut diklaim oleh Fernando Rodriguez, putra seorang bos mafia Gilberto Rodriguez Orejuela yang berjuluk "Pemain Catur". Detil dari klaim itu sendiri diungkapkan Rodriguez dalam sebuah buku yang menyoal tentang ayahnya, yang tengah menjalani hukuman penjara 30 tahun di Amerika Serikat atas tuduhan mengimpor kokain.
"Kami punya foto dan pernyataan di dalam buku, kisah lengkap tentang bagaimana kesepakatan dilakukan," tukas dia seperti dilansir Daily Mail.
Dalam buku dimaksud, Diego Maradona juga disebutkan punya hubungan kedekatan dengan Gilberto Rodriguez dan bahkan pernah mencoba merekrut pemain legendaris tersebut untuk bermain di klub Kolombia America de Cali dengan harga 3 juta dolar (sekitar Rp 27,6 miliar).
Selain itu, Fernando Rodriguez, juga mengaku kalau organisasi mafia keluarganya sudah melakukan pencucian uang lebih dari 50 juta dolar (sekitar Rp 461 miliar) di sepakbola Argentina. Dalam kompetisi tersebut, keluarganya memiliki jejaring yang sudah diretas sejak tahun 1974 oleh sang paman, Miguel Rodriguez
"Sangat mudah untuk mencuci uang di sana," ceplos Fernando.
Benar-benar terjadi atau sekadar cari sensasi?
Foto: Pemain andalan Argentina, Mario Kempes, yang juga jadi topskorer di Piala Dunia 1978 (BBC).
( krs / a2s )
Sukses Argentina Tahun 1978 karena Mafia?
Kris Fathoni W - detiksport

Piala Dunia 1978 yang digelar Argentina masih menggunakan dua fase grup di putaran final. Pada fase grup kedua, tuan rumah tergabung dalam Grup B bersama Brasil, Peru dan Polandia. Favorit di grup tersebut jelas adalah "Tim Tango" dan "Tim Samba".
Pada pertandingan pertama, Brasil sukses menekuk Peru 3-0 sedangkan Argentina mengandaskan Polandia 2-0. Kedua tim tangguh dari Amerika Latin tersebut kemudian berbagi hasil imbang 0-0 ketika saling berhadapan.
Pada pertandingan terakhir, Brasil yang tampil lebih dulu menang 3-1 dari Polandia. Hal ini membuat Argentina, yang bertanding usai partai tersebut tuntas, mutlak menang dengan selisih empat gol jika ingin melaju ke final. Jika tak mampu jatah itu jadi milik Brasil dan tuan rumah hanya akan memperebutkan posisi ketiga karena hanya finis di posisi dua Grup B.
Namun demikian, Mario Kempes cs mampu melakukannya, bahkan menang dengan setengah lusin gol tanpa balas. Skor 6-0 terkesan mencurigakan sehingga Brasil pun saat itu meradang, apalagi kiper Peru ketika itu, Ramon Quiroga, ternyata lahir di Argentina. Di final, Argentina dicatat oleh sejarah jadi jawara usai menyungkurkan Belanda 3-1 di babak tambahan waktu.
Tiga dekade berselang, putra seorang bos mafia melontarkan klaim kalau keluarga mafia tertentu ada di balik kemenangan Argentina atas Peru, dengan cara memberikan bayaran kepada pemain Peru agar mereka mengalah. Laga tersebut memang krusial karena jika gagal menang dengan memenuhi syarat gol yang dibutuhkan, Argentina takkan ada di final.
Hal tersebut diklaim oleh Fernando Rodriguez, putra seorang bos mafia Gilberto Rodriguez Orejuela yang berjuluk "Pemain Catur". Detil dari klaim itu sendiri diungkapkan Rodriguez dalam sebuah buku yang menyoal tentang ayahnya, yang tengah menjalani hukuman penjara 30 tahun di Amerika Serikat atas tuduhan mengimpor kokain.
"Kami punya foto dan pernyataan di dalam buku, kisah lengkap tentang bagaimana kesepakatan dilakukan," tukas dia seperti dilansir Daily Mail.
Dalam buku dimaksud, Diego Maradona juga disebutkan punya hubungan kedekatan dengan Gilberto Rodriguez dan bahkan pernah mencoba merekrut pemain legendaris tersebut untuk bermain di klub Kolombia America de Cali dengan harga 3 juta dolar (sekitar Rp 27,6 miliar).
Selain itu, Fernando Rodriguez, juga mengaku kalau organisasi mafia keluarganya sudah melakukan pencucian uang lebih dari 50 juta dolar (sekitar Rp 461 miliar) di sepakbola Argentina. Dalam kompetisi tersebut, keluarganya memiliki jejaring yang sudah diretas sejak tahun 1974 oleh sang paman, Miguel Rodriguez
"Sangat mudah untuk mencuci uang di sana," ceplos Fernando.
Benar-benar terjadi atau sekadar cari sensasi?
Foto: Pemain andalan Argentina, Mario Kempes, yang juga jadi topskorer di Piala Dunia 1978 (BBC).
( krs / a2s )
Komentar terkini (2 Komentar)


