Forum Sepakbola
- Juara Liga Inggris 2008-2... rooney2309
- Jadwal Ketat Liga Inggris... plabuhan boys
- scholes..pemain tua tua k... buleud
- The New Social Thread... publica FC
- All About Liverpool part ... YNWA
- All About Manchester Unit... pangeran007
Berita Lain
- Sabtu, 05/07/2008 01:02 WIB
'Ke Portsmouth Saja, SWP' - Jumat, 04/07/2008 15:57 WIB
Grant Ingatkan Scolari Jangan 'Standar' - Jumat, 04/07/2008 11:50 WIB
'Ronaldo Takkan Tinggalkan MU' - Jumat, 04/07/2008 07:18 WIB
'Beli Barry Sesuai Harga, Reds!' - Kamis, 03/07/2008 23:22 WIB
Chelsea Lepaskan Crespo
Indeks Berita
Baca Juga
Kamis, 15/05/2008 14:12 WIB
'Ingin Jadi Kiper Bagus? Sekolah Dulu!'
Kris Fathoni W - detiksport

AFP/Glyn Kirk
London - Tim nasional Inggris masih belum punya kiper tangguh yang bisa diandalkan. Tips dari Jens Lehmann, kiper dari negara tersebut harus terlebih dulu banyak menimba ilmu di sekolah umum agar bisa tampil oke.
Posisi penjaga gawang bisa jadi merupakan salah satu titik terlemah timnas Inggris saat ini. Paul Robinson, David James, Scott Carson, Joe Hart atau Chris Kirkland masih belum bisa unjuk gigi dan jadi andalan sepenuhnya.
Problema terbesar dari sederet kiper tersebut adalah mereka bikin kesalahan yang sebenarnya tak perlu dalam pertandingan. Blunder itu acap jadi awal bencana, walau kiper bersangkutan sebelumnya sempat tampil memikat.
Lehmann, kiper veteran asal Jerman yang akan meninggalkan Arsenal akhir musim ini punya solusinya. "Terkadang penjaga gawang di sini (Inggris) tak lama duduk di bangku sekolah. Ketika Anda adalah seorang kiper, Anda harus menjaga konsentrasi di tingkat yang sangat tinggi selama 90 menit, kadang 120 atau 150," urai Lehmann seperti dilansir Daily Mail.
"Cara terbaik untuk belajar (memperbaikinya) adalah dengan berada di sekolah dengan fokus kepada tugas-tugas akademis. Saat Anda meninggalkan sekolah pada usia 16, Anda tak bisa memilikinya, Anda akan kehilangan itu."
Menurut penjaga gawang berusia 38 tahun tersebut, itulah mengapa kiper-kiper asing bisa lebih menonjol di Premiership daripada kiper lokal, kendati James dan Hart disebutnya sudah cukup bagus. "Itu mengapa kiper asing datang ke sini. Saya tahu beberapa dari mereka dan mereka orang-orang cerdas, seperti Petr Cech dan Edwin van der Sar."
Selain masalah pendidikan yang bisa membentuk daya konsentrasi para kiper, Lehmann juga menyebut kalau sistem kepelatihan Inggris keliru dalam mendidik bibit-bibit penjaga gawangnya.
"Saya bicara dengan fisio Gary Lewin, yang dulu jadi kiper di Arsenal, dan dia bilang dia dididik untuk tak pernah meninggalkan garis gawang karena itu bukan areanya. Itulah kesalahan besar pertama yang bisa Anda buat," koreksi Lehmann.
Kiper yang pernah membela Schalke, AC Milan dan Borussia Dortmund itu mencontohkan gaya bermain dirinya sendiri yang tak sungkan meninggalkan gawang. "Saat pertama datang ke sini, saya maju untuk mengantisipasi umpan silang dan umpan panjang. Saya kadang maju sampai 40 yard (sekitar 36,5 meter) di muka gawang. Saya membantu pemain belakang dan tim karena itu artinya mereka bisa lebih merangsek maju."
Pada musim pertamanya itu, Lehmann dengan gayanya tersebut sukses membawa Arsenal mencatat rekor tak terkalahkan terbanyak di Liga, sebanyak 49 partai antara Mei 2003 sampai Oktober 2004. Belakangan, sayangnya, dia justru banyak menuai kritik.
Untuk menjadi seorang kiper hebat, Lehmann juga bersikeras tahu rahasia jitunya. Namun dia enggan membagi rahasia tersebut, atau bahkan menularkannya dengan jadi pelatih kiper. ( krs / arp )
'Ingin Jadi Kiper Bagus? Sekolah Dulu!'
Kris Fathoni W - detiksport

AFP/Glyn Kirk
Posisi penjaga gawang bisa jadi merupakan salah satu titik terlemah timnas Inggris saat ini. Paul Robinson, David James, Scott Carson, Joe Hart atau Chris Kirkland masih belum bisa unjuk gigi dan jadi andalan sepenuhnya.
Problema terbesar dari sederet kiper tersebut adalah mereka bikin kesalahan yang sebenarnya tak perlu dalam pertandingan. Blunder itu acap jadi awal bencana, walau kiper bersangkutan sebelumnya sempat tampil memikat.
Lehmann, kiper veteran asal Jerman yang akan meninggalkan Arsenal akhir musim ini punya solusinya. "Terkadang penjaga gawang di sini (Inggris) tak lama duduk di bangku sekolah. Ketika Anda adalah seorang kiper, Anda harus menjaga konsentrasi di tingkat yang sangat tinggi selama 90 menit, kadang 120 atau 150," urai Lehmann seperti dilansir Daily Mail.
"Cara terbaik untuk belajar (memperbaikinya) adalah dengan berada di sekolah dengan fokus kepada tugas-tugas akademis. Saat Anda meninggalkan sekolah pada usia 16, Anda tak bisa memilikinya, Anda akan kehilangan itu."
Menurut penjaga gawang berusia 38 tahun tersebut, itulah mengapa kiper-kiper asing bisa lebih menonjol di Premiership daripada kiper lokal, kendati James dan Hart disebutnya sudah cukup bagus. "Itu mengapa kiper asing datang ke sini. Saya tahu beberapa dari mereka dan mereka orang-orang cerdas, seperti Petr Cech dan Edwin van der Sar."
Selain masalah pendidikan yang bisa membentuk daya konsentrasi para kiper, Lehmann juga menyebut kalau sistem kepelatihan Inggris keliru dalam mendidik bibit-bibit penjaga gawangnya.
"Saya bicara dengan fisio Gary Lewin, yang dulu jadi kiper di Arsenal, dan dia bilang dia dididik untuk tak pernah meninggalkan garis gawang karena itu bukan areanya. Itulah kesalahan besar pertama yang bisa Anda buat," koreksi Lehmann.
Kiper yang pernah membela Schalke, AC Milan dan Borussia Dortmund itu mencontohkan gaya bermain dirinya sendiri yang tak sungkan meninggalkan gawang. "Saat pertama datang ke sini, saya maju untuk mengantisipasi umpan silang dan umpan panjang. Saya kadang maju sampai 40 yard (sekitar 36,5 meter) di muka gawang. Saya membantu pemain belakang dan tim karena itu artinya mereka bisa lebih merangsek maju."
Pada musim pertamanya itu, Lehmann dengan gayanya tersebut sukses membawa Arsenal mencatat rekor tak terkalahkan terbanyak di Liga, sebanyak 49 partai antara Mei 2003 sampai Oktober 2004. Belakangan, sayangnya, dia justru banyak menuai kritik.
Untuk menjadi seorang kiper hebat, Lehmann juga bersikeras tahu rahasia jitunya. Namun dia enggan membagi rahasia tersebut, atau bahkan menularkannya dengan jadi pelatih kiper. ( krs / arp )
Komentar terkini (2 Komentar)


