- Pelatih muda dan prestasi... lelaki
- Dream Tim Terbaik Sepanja... diramto
- Jadwal tayangan Televisi ... lelaki
- Pemain Muda Paling Berbak... Il_Pinturicchio
- Inggris yang Tidak Lolos... Mr. Thinking
- Klub-klub terbaik di duni... Joel Milanisti
Berita Lain
- Senin, 06/10/2008 00:06 WIB
Torres Cetak Gol ke-1000 Liverpool - Jumat, 26/09/2008 13:19 WIB
Zanetti Penampil Aktif Terbanyak Inter
Indeks Berita
Rabu, 02/08/2006 15:40 WIB
Calciopoli dari Masa ke Masa
Doni Wahyudi - detiksport

Jakarta - Tahun 2006 sepakbola Italia diguncang skandal Calciopoli. Sejarah mencatat skandal, suap, dan pengaturan pertandingan manjadi penyakit yang sulit diobati dari sepakbola.
Entah sejak kapan pengaturan pertandingan menjadi benalu di sepakbola. Yang pasti untuk melihat skandal pertama yang tercatat dalam sejarah kita harus menengok jauh ke belakang, tepatnya tahun 1927.
Saat itu di akhir musim 1926/1927 Torino akhirnya bisa merasakan gelar juara Seri A mereka yang pertama. Sayang perayaan tersebut tak berlangsung lama, pasalnya berdasarkan artikel di sebuah suratkabar FIGC kemudian melakukan penyelidikan karena tercium adanya praktek suap.
Benar saja. Tim penyelidik menemukan bukti kalau Torino menyuap pemain belakang Juventus Luigi Allemandi sebesar 50 ribu Lira dalam sebuah partai derby yang akhirnya dimenangkan Torino 2-1. Pengadilan kemudian menjatuhkan sanksi pencabutan gelar Torino, sementara Allemandi dihukum larangan bertanding seumur hidup.
Skandal besar kedua yang menerpa Seri A terjadi tahun 1980 yang membuat AC Milan dan Lazio terdegradasi ke Seri B. Presiden Milan, Felice Colombo dan beberapa pemain dari berbagai klub yang berbeda ditahan karena terlibat pengaturan pertandingan dan judi ilegal.
Atas keterlibatan dalam skandal yang kemudian dikenal dengan nama Totonero itu Colombo dihukum larangan berkecimpung di dunia sepakbola seumur hidupnya. Sementara beberapa pemain termasuk pahlawan Azzurri di Piala Dunia 1982, Paolo Rossi dihukum larangan bertanding dengan durasi yang berbeda-beda.
Tahun 1993 nama Bruce Grobbelaar ramai menghiasi banyak media massa di Inggris. Harian The Sun menuduh kiper Liverpool itu menerima bayaran 40 ribu poundsterling dari Newcastle United dalam sebuah pertandingan di mana The Reds kalah 0-3 atas The Magpies.
Grobbelaar sempat dua kali diajukan ke meja hijau. Namun juri pengadilan tak mampu mencapai kesepakatan untuk memutuskan kiper kelahiran Afrika Selatan itu bersalah.
Di tahun yang sama skandal juga menguncang Liga Utama Prancis. Sukses menjadi tim Prancis pertama meraih tropi Liga Champions, Olympique Marseille tersandung masalah di negeri sendiri. Berdasar hasil penyelidikan diketahui kalau presiden mereka saat itu, Bernard Tapie, menyuap klub Valenciennes FC untuk memuluskan langkah OM menjadi kampiun Liga Prancis.
Atas kasus tersebut OM harus merelakan gelarnya dicabut, sementara Tapie harus mendekam dalam bui. Sejak skandal tersebut marseille belum lagi menjadi juara Liga Prancis.
Sebenarnya masih banyak skandal-sakndal dan kasus serupa di berbagai kompetisi di seluruh dunia. Misalnya yang dialami kiper Bristol Rovers, Esmond Million di tahun 1963, Genoa yang terdegradasi ke Seri C1 tahun 2005, kasus wasit Edilson Pereira de Carvalho di Liga Brasil dan Robert Hoyzer di Liga Jerman.
( din )
Calciopoli dari Masa ke Masa
Doni Wahyudi - detiksport

Entah sejak kapan pengaturan pertandingan menjadi benalu di sepakbola. Yang pasti untuk melihat skandal pertama yang tercatat dalam sejarah kita harus menengok jauh ke belakang, tepatnya tahun 1927.
Saat itu di akhir musim 1926/1927 Torino akhirnya bisa merasakan gelar juara Seri A mereka yang pertama. Sayang perayaan tersebut tak berlangsung lama, pasalnya berdasarkan artikel di sebuah suratkabar FIGC kemudian melakukan penyelidikan karena tercium adanya praktek suap.
Benar saja. Tim penyelidik menemukan bukti kalau Torino menyuap pemain belakang Juventus Luigi Allemandi sebesar 50 ribu Lira dalam sebuah partai derby yang akhirnya dimenangkan Torino 2-1. Pengadilan kemudian menjatuhkan sanksi pencabutan gelar Torino, sementara Allemandi dihukum larangan bertanding seumur hidup.
Skandal besar kedua yang menerpa Seri A terjadi tahun 1980 yang membuat AC Milan dan Lazio terdegradasi ke Seri B. Presiden Milan, Felice Colombo dan beberapa pemain dari berbagai klub yang berbeda ditahan karena terlibat pengaturan pertandingan dan judi ilegal.
Atas keterlibatan dalam skandal yang kemudian dikenal dengan nama Totonero itu Colombo dihukum larangan berkecimpung di dunia sepakbola seumur hidupnya. Sementara beberapa pemain termasuk pahlawan Azzurri di Piala Dunia 1982, Paolo Rossi dihukum larangan bertanding dengan durasi yang berbeda-beda.
Tahun 1993 nama Bruce Grobbelaar ramai menghiasi banyak media massa di Inggris. Harian The Sun menuduh kiper Liverpool itu menerima bayaran 40 ribu poundsterling dari Newcastle United dalam sebuah pertandingan di mana The Reds kalah 0-3 atas The Magpies.
Grobbelaar sempat dua kali diajukan ke meja hijau. Namun juri pengadilan tak mampu mencapai kesepakatan untuk memutuskan kiper kelahiran Afrika Selatan itu bersalah.
Di tahun yang sama skandal juga menguncang Liga Utama Prancis. Sukses menjadi tim Prancis pertama meraih tropi Liga Champions, Olympique Marseille tersandung masalah di negeri sendiri. Berdasar hasil penyelidikan diketahui kalau presiden mereka saat itu, Bernard Tapie, menyuap klub Valenciennes FC untuk memuluskan langkah OM menjadi kampiun Liga Prancis.
Atas kasus tersebut OM harus merelakan gelarnya dicabut, sementara Tapie harus mendekam dalam bui. Sejak skandal tersebut marseille belum lagi menjadi juara Liga Prancis.
Sebenarnya masih banyak skandal-sakndal dan kasus serupa di berbagai kompetisi di seluruh dunia. Misalnya yang dialami kiper Bristol Rovers, Esmond Million di tahun 1963, Genoa yang terdegradasi ke Seri C1 tahun 2005, kasus wasit Edilson Pereira de Carvalho di Liga Brasil dan Robert Hoyzer di Liga Jerman.
( din )
