Berita Lain

Indeks Berita

Baca Juga

Jumat, 04/04/2008 19:12 WIB

'Tidak Ingin Maju, Silakan Saja'
Lily Indriyani - detiksport


Joko Driyono (detiksport/Lily)

Jakarta - Silang pendapat yang terjadi di antara klub-klub dengan Badan Liga Indonesia tentang persyaratan untuk berlaga dalam kompetisi musim 2008 terus bergulir. Tapi BLI tak perduli.

Adanya standar Manual K yang membuat klub mau tak mau mulai melakukan pembenahan, berimbas pada kelangsungan klub itu sendiri. Ketidak mampuan mereka untuk mengelola pendanaan secara mandiri, mengakibatkan klub kelimpungan.

Masalah tersebut ternyata tak membuat Direktur Kompetisi BLI, Joko Driyono pusing. Bahkan ia mengaku tak perduli.

"Tugas BLI itu hanya sebagai lembaga profesional klub dan liga. Kalau mereka tak mau mengikuti, ya silakan saja. APBD itu 'kan masalah negara. Jadi yang bisa menanggulangi ya negara sendiri," ungkap Joko saat ditemui detiksport dan The Jakarta Post di kantornya, Rasuna Office Park Jakarta, Jum'at (4/4/2008).

Sebagaimana diketahui, sebelumnya sumber pendanaan klub selama ini berasal dari APBD, dan Manual K mengharuskan klub berbadan hukum dengan potret komersial. Dengan kata lain, klub harus bisa 'menghidupi' dirinya sendiri dan profesional pastinya.

"Kalau klub tidak ingin profesional, ya berarti mereka tidak membutuhkan BLI. Simpel 'kan?" tegasnya yang tidak ingin kinerja BLI terganggu oleh masalah-masalah politis.

Lebih lanjut Joko menambahkan bahwa proses lisensi ini serta perbaikan-perbaikan di dalamnya, sebenarnya merupakan jalan untuk membuat klub dan liga sepakbola Indonesia menjadi lebih maju.

Ketika disinggung apakah 'ketidakakuran' nantinya dapat mempengaruhi persepsi publik, ia menanggapinya dengan santai.

"Saya tidak perduli. Ini bukan hanya untuk satu atau dua tahun ke depan lho. Saya yakin tidak akan ada improvement bagi klub itu sendiri kalau mereka tidak mengikutinya," pungkasnya. ( a2s / krs )

Baca juga: