- Stremaing live kualifikas... manutd88
- tim non unggulan tapii bi... lelaki
- tempat tuk peminat liga a... lelaki
- Pemain Muda Paling Berbak... Il_Pinturicchio
- Inggris yang Tidak Lolos... Mr. Thinking
- Klub-klub terbaik di duni... Joel Milanisti
Berita Lain
- Jumat, 05/09/2008 15:57 WIB
Maradona: Yang Budak itu Blatter - Jumat, 05/09/2008 10:23 WIB
Jelang Kualifikasi Piala Dunia 2010
Bojan Tenang Hadapi Debut - Jumat, 05/09/2008 10:15 WIB
Kualifikasi Piala Dunia 2010
Inggris Tanpa Ferdinand - Jumat, 05/09/2008 02:45 WIB
Toni Tolak Dikambinghitamkan - Jumat, 05/09/2008 01:15 WIB
Jelang Andorra vs Inggris
Barry Ingin Buktikan Diri - Kamis, 04/09/2008 14:04 WIB
Kualifikasi Piala Dunia 2010
Tanpa Frings & Ballack, Jerman Tetap Pede
Indeks Berita
Baca Juga
Klasemen Liga Champions, Klasemen Piala UEFA, Klasemen Belanda, Klasemen Portugal, Klasemen Prancis, Siaran Langsung
Kamis, 01/05/2008 06:18 WIB
Grant: Bukan Special One, tapi...
Doni Wahyudi - detiksport

London - Membawa Chelsea ke final Liga Champions membuat Avram Grant melebihi raihan Jose Mourinho. Pelatih Israel itupun berbicara soal julukan special one. Apa katanya?
Tanda-tanda Chelsea akan menjalani final Liga Champions pertamanya sudah terlihat sejak pekan lalu usai menahan Liverpool dengan 1-1 di Anfield. Sukses yang mereka lanjutkan dengan kemenangan 3-2 dalam pertandingan leg kedua beberapa jam lalu.
Tak seperti Mourinho yang sudah memberi enam gelar, hingga kini belum ada tropi yang diberikan Grant pada The Blues. Tapi mencapai prestasi yang sebelumnya justru tak bisa didapat Mourinho dengan meloloskab Chelsea ke final jelas sebuah torehan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Grant kah Special One yang baru?
"Hanya ada satu special one," ungkap Grant sambil tertawa. "Tapi saya sangat bahagia tentunya. Setiap mencatat sejarah baru itu merupakan sesuatu yang spesial di Inggris, terlebih di Chelsea. Apalagi setelah apa yang kami dapat tahun ini, terlebih menghadapi Liverpool."
Melangkah ke final jelas disambut dengan suka cita oleh Grant. Yang juga membuatnya makin sumringah adalah keberhasilan menyingkirkan Liverpool, tim yang sebelumnya justru jadi mimpi buruk "Si Biru" di era Mourinho.
"Saya memimpin tim yang fantastis. Rafa bermain taktis, Anda harus cukup cerdas menghadapinya karena mereka tahu harus berbuat apa. Tapi kami berhasil, saya sangat bahagia. Kami memulai babak kedua dengan kurang baik, tapi kami berhasil memperbaikinya dan keluar sebagai pemenang," lanjut Grant.
Pelatih asal Israel itu terlihat sangat emosional saat wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir dengan bersimpuh di atas dua lututnya di pinggir lapangan.
"Saya melihatnya di televisi, itu sedikit memalukan. Tapi ini adalah hari Holocaust, saya tak tahu apakah Anda mengetahuinya. Saya menghormati ayah saya juga kakek yang tewas dalam Holocaust... jadi itu sangat emosional," pungkas Grant. ( din / arp )
Grant: Bukan Special One, tapi...
Doni Wahyudi - detiksport

Tanda-tanda Chelsea akan menjalani final Liga Champions pertamanya sudah terlihat sejak pekan lalu usai menahan Liverpool dengan 1-1 di Anfield. Sukses yang mereka lanjutkan dengan kemenangan 3-2 dalam pertandingan leg kedua beberapa jam lalu.
Tak seperti Mourinho yang sudah memberi enam gelar, hingga kini belum ada tropi yang diberikan Grant pada The Blues. Tapi mencapai prestasi yang sebelumnya justru tak bisa didapat Mourinho dengan meloloskab Chelsea ke final jelas sebuah torehan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Grant kah Special One yang baru?
"Hanya ada satu special one," ungkap Grant sambil tertawa. "Tapi saya sangat bahagia tentunya. Setiap mencatat sejarah baru itu merupakan sesuatu yang spesial di Inggris, terlebih di Chelsea. Apalagi setelah apa yang kami dapat tahun ini, terlebih menghadapi Liverpool."
Melangkah ke final jelas disambut dengan suka cita oleh Grant. Yang juga membuatnya makin sumringah adalah keberhasilan menyingkirkan Liverpool, tim yang sebelumnya justru jadi mimpi buruk "Si Biru" di era Mourinho.
"Saya memimpin tim yang fantastis. Rafa bermain taktis, Anda harus cukup cerdas menghadapinya karena mereka tahu harus berbuat apa. Tapi kami berhasil, saya sangat bahagia. Kami memulai babak kedua dengan kurang baik, tapi kami berhasil memperbaikinya dan keluar sebagai pemenang," lanjut Grant.
Pelatih asal Israel itu terlihat sangat emosional saat wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir dengan bersimpuh di atas dua lututnya di pinggir lapangan.
"Saya melihatnya di televisi, itu sedikit memalukan. Tapi ini adalah hari Holocaust, saya tak tahu apakah Anda mengetahuinya. Saya menghormati ayah saya juga kakek yang tewas dalam Holocaust... jadi itu sangat emosional," pungkas Grant. ( din / arp )
