- Tim raksasa mana yg akan ... falkemann
- Stremaing live kualifikas... manutd88
- tim non unggulan tapii bi... lelaki
- Pemain Muda Paling Berbak... Il_Pinturicchio
- Inggris yang Tidak Lolos... Mr. Thinking
- Klub-klub terbaik di duni... Joel Milanisti
Berita Lain
- Minggu, 07/09/2008 19:47 WIB
Di Natale Menanjak di Usia Tua - Rabu, 03/09/2008 00:00 WIB
Gilardino Meretas Jalan Baru
Indeks Berita
Jumat, 30/05/2008 06:26 WIB
Mancini, Terhebat Sejak 70an
Mohammad Yanuar Firdaus - detiksport

AFP/Luca Ghidoni
Milan - Percaya atau tidak, Roberto Mancini merupakan pelatih tersukses Inter sejak tahun 70an. Hanya Helenio Herrerra yang bisa menandingi pencapaiannya itu.
Bila kesuksesan dipertimbangan dari banyaknya tropi yang didapat, Mancini memang menjadi salah satu yang terbaik. Bayangkan saja, dalam selama empat musim menangani Inter, tujuh titel juara mampu didapatnya.
Musim pertamanya bersama Inter, tepatnya di tahun 2004/2005, Mancini sudah memberi satu titel juara, yaitu Coppa Italia. Kesuksesan itu berlanjut di tahun berikutnya, di mana ia menorehkan treble gelar di kancah domestik, yaitu scudetto Seri A, Coppa dan Super Coppa.
Tahun berikutnya, di musim 2006/2007, Mancini memberi titel scudetto dan gelar Super Coppa. Penutupnya adalah di musim ini, di mana ia mempersembahkan titel terakhir, yaitu scudetto ke-16.
Namun sayangnya, meski mampu membentuk tim yang sangat disegani di kancah domestik, Mancini terbilang gagal bila mengikuti kompetisi Eropa. Tak sekalipun Inter berhasil dibawanya menembus semifinal Liga Champions.
Capaian negatif di level Eropa itulah yang sepertinya membuat presiden Massimo Moratti memecatnya, buah dari ketidaksabarannya atas penantian gelar di level internasional. Solusinya, Jose Mourinho konon sudah ditunjuk untuk mengisi tempat Mancini.
Apapun itu, Mancini sudah sepantasnya masuk hall of fame pelatih di Internazionale. Soalnya prestasinya itu tidak ada yang bisa menyainginya, kecuali Helenio Herrera.
Herrera menangani Inter sejak 1960-1968. Selama delapan musim tersebut, ia berhasil menyumbang tujuh gelar, tiga di ajang Seri A (62/63, 64/65 dan 65/66), dua titel Piala Champions (63/64, 64/65) dan dua titel Intercontinental Cup (64 dan 65).
Sekarang tinggal menunggu penerus Mancini, apakah ia bisa mencatat prestasi yang lebih baik ketimbang pendahulunya, atau membuat Inter kehilangan dominasinya di kancah domestik di masa mendatang.
( ian / a2s )
Mancini, Terhebat Sejak 70an
Mohammad Yanuar Firdaus - detiksport

AFP/Luca Ghidoni
Bila kesuksesan dipertimbangan dari banyaknya tropi yang didapat, Mancini memang menjadi salah satu yang terbaik. Bayangkan saja, dalam selama empat musim menangani Inter, tujuh titel juara mampu didapatnya.
Musim pertamanya bersama Inter, tepatnya di tahun 2004/2005, Mancini sudah memberi satu titel juara, yaitu Coppa Italia. Kesuksesan itu berlanjut di tahun berikutnya, di mana ia menorehkan treble gelar di kancah domestik, yaitu scudetto Seri A, Coppa dan Super Coppa.
Tahun berikutnya, di musim 2006/2007, Mancini memberi titel scudetto dan gelar Super Coppa. Penutupnya adalah di musim ini, di mana ia mempersembahkan titel terakhir, yaitu scudetto ke-16.
Namun sayangnya, meski mampu membentuk tim yang sangat disegani di kancah domestik, Mancini terbilang gagal bila mengikuti kompetisi Eropa. Tak sekalipun Inter berhasil dibawanya menembus semifinal Liga Champions.
Capaian negatif di level Eropa itulah yang sepertinya membuat presiden Massimo Moratti memecatnya, buah dari ketidaksabarannya atas penantian gelar di level internasional. Solusinya, Jose Mourinho konon sudah ditunjuk untuk mengisi tempat Mancini.
Apapun itu, Mancini sudah sepantasnya masuk hall of fame pelatih di Internazionale. Soalnya prestasinya itu tidak ada yang bisa menyainginya, kecuali Helenio Herrera.
Herrera menangani Inter sejak 1960-1968. Selama delapan musim tersebut, ia berhasil menyumbang tujuh gelar, tiga di ajang Seri A (62/63, 64/65 dan 65/66), dua titel Piala Champions (63/64, 64/65) dan dua titel Intercontinental Cup (64 dan 65).
Sekarang tinggal menunggu penerus Mancini, apakah ia bisa mencatat prestasi yang lebih baik ketimbang pendahulunya, atau membuat Inter kehilangan dominasinya di kancah domestik di masa mendatang.
( ian / a2s )
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
